Kamis, 13 Desember 2018

Analisis Kerja Sistem (PRE TEST MANAJEMEN KONTROL PROGRAMING)


5 Tahapan Pengembangan Program



1.      Perencanaan (Planning) 
Tugas utama untuk memperkirakan kebutuhan besarnya sumber daya (khususnya jam kerja) yang dibutuhkan dalam pengembangan, pengadaan, dan penerapan software. Jika, sebagai contoh, s/w di buat di rumah (in house), manajemen harus berusaha untuk memperkirakan berapa jumlah baris kode (program) yang di ketik atau banyaknya fungsi yang di buat.  Jika suatu software akan dikembangkan dan diimplementasikan secara in-house, manajemen harus memanfaatkan lima teknik perencanaan biaya yang di buat oleh Boehm (1984) sbb :
·         Algorithmic Models (model algoritma) : model ini akan memperkirakan jumlah sumber daya yang dibutuhkan berdasar pada faktor biaya, sebagai contoh memperkirakan jumlah instruksi yang harus di ketik (di tulis), bahasa pemrograman yang digunakan, dan perubahan pada permintaan kebutuhan. Dengan menggunakan model COCOMO (Boehm’s (1981)). 
·         Expert Judgment (penilaian seorang ahli), seorang ahli dapat memperkirakan kebutuhan sumber daya yang diperlukan dalam proyek / pembuatan program. Menurut penelitian Vicinanza et el’s (1991), seorang ahli dapat menjadi pembuat perkiraan yang lebih baik untuk menentukan sumber daya jika dibanding dengan model algoritma.
·         Analogy (analogi) : jika proyek software yang sama pernah dibuat, penentuan sumber daya yang dibutuhkan dapat di dasarkan pada pengalaman sebelumnya. 
·         Top-Down Estimation (Perkiraan atas-bawah) : proyek di pecah kedalam beberapa tugas (pekerjaan), dan penentuan sumber daya yang dibutuhkan oleh setiap tugas tersebut baru dibuat.
·         Bottom-Up Estimation (Perkiraan bawah-atas) : jika tugas-tugas sudah di buat terlebih dahulu, kebutuhan sumber daya untuk masing-masing dapat diperkirakan dan di satukan / dikumpulkan untuk keperluan seluruh kebutuhan proyek.

Selain memperkirakan kebutuhan sumber daya, manajemen juga harus memutuskan tujuan dari keputusan penting yang dibuat selama fase perencanaan seperti :
·         Pendekatan desain (design approach) : jika program akan dikembangkan dirumah, manajemen harus memilih pendekatan desain yang akan digunakan seperti prototyping atau tipe top-down atau bottom-up.
·         Pendekatan implementasi (implementation approach) : software dapat dikembangkan dirumah, pengembang dapat membangun atau mengemas software untuk dijual. Jika software akan dibuat koding, harus dibuat keputusan tentang bahasa pemrograman yang akan dipakai.
·         Pendekatan testing dan integrasi (Integration and testing approach) : pada saat pengetesan akan dibutuhkan sumber daya yang khusus, seperti simulator atau hardware tertentu untuk memonitor jalannya program.
·         Pengorganisasian tim proyek (project team organization) : saat tim proyek harus dibentuk untuk pengembangan atau pengadaan software, maka anggota dan struktur tim harus ditentukan.

Pada tahap kontrol ini, ada dua tujuan utama yaitu :
1.      Untuk memonitor kemajuan dan beberapa tahap pada siklus hidup s/w agar tidak bertentangan dengan rencana awal.
2.      Mengontrol tugas pengembangan, pengadaan dan implementasi s/w, agar s/w dapat di produksi secara autentik, akurat dan lengkap. 

Untuk memonitor agar kontrol tidak bertentangan dengan rencana awal, beberapa teknik dapat digunakan seperti :
·         Work Breakdown Structures (WBS), dengan teknik ini kita dapat mengidentifikasi tugastugas yang spesifik untuk pengembangan, pengadaan, dan implementasi s/w yang dibutuhkan (Mc.Leod and Smith 1996).  
·         Gantt Chart, dapat digunakan untuk membantu mengatur tugas (schedule). Teknik ini akan menunjukan kapan tugas harus dimulai dan diselesaikan, tugas apa yang harus dibuat bersama-sama, dan tugas apa yang harus dihasilkan secara serial. 
·         Program Evaluation and review technique (PERT), menunjukan tugas-tugas yang harus diselesaikan, bagaimana hubungannya, kebutuhan sumber daya apa untuk setiap tugastugasnya

Seorang auditor harus mempunyai dua perhatian khusus pada kendali, pada tahap kontrol ini yaitu : 
·         Auditor harus dapat mengevaluasi apakah fungsi dari aktivitas kontrol dapat diterapkan juga pada software yang berbeda.
·         Seorang auditor harus dapat mengumpulkan bukti apakah prosedur dari suatu kontrol sudah dijalankan dengan benar dan dapat dipercaya. 

2.      Perancangan (Design) 
Seorang programmer bertugas untuk menspesifikasikan struktur dan operasi dari program untuk menemukan artikulasi yang dibutuhkan selama tahap proses informasi sistem desain dari pengembangan sistem.

Sedangkan auditor tugas utamanya adalah  sebagai berikut :
·         Menentukan apakah programmer menggunakan suatu tipe khusus dari pendekatan sistematik untuk desain.
·         Auditor harus mengubah keinginannya berdasarkan beberapa faktor seperti ukuran dan bahan dari suatu program. 
·         Seorang auditor juga dapat memperoleh bukti dari proses desain dengan melakukan interview, observasi, dan review dari dokumentasi.
·         Auditor dapat berkomunikasi dengan programmer, apakah mereka dapat memahami tentang kebutuhan dengan menggunakan pendekatan yang sistematik untuk desain, jika ya, bagaimana menggunakannya. 
·         Auditor juga dapat mengamati apakah programmer menggunakan pendekatan sistematik untuk mendesain program.
·         Mereka juga dapat meninjau dokumentasi program, apakah memiliki struktur chart sebagai bukti programmer menggunakan pendekatan yang sistematik untuk mendesain.

3.      Pengkodean (Coding)
Tahap koding (pengetikan / penulisan program) dilakukan pada saat s/w akan dibuat atau dimodifikasi. Selama tahap ini, programmer akan menulis dan mendokumentasikan source code (program sumber) dalam bahasa pemrograman untuk mengimplementasikan desain program.

Tiga strategi utama dari implementasi modul dan integrasi :
·         Top-Down
Digunakan jika, modul level atas (high-level modules) dibuat (coding), di test, dan diintegrasikan sebelum modul level bawah (low-level modules). Keuntungannya adalah kesalahan pada modul level atas dapat teridentifikasi lebih dini, kerugiannya adalah pada saat uji coba program akan menemui kesulitan ketika modul level bawah menemukan kesalahan fungsi input-output yang sangat sulit.
·         Bottom up
Digunakan jika, modul level bawah di buat (coding), di test, dan diintegrasikan sebelum modul level atas di buat. Keuntungannya adalah modul level rendah yang merupakan operasi yang paling sulit di implementasikan dan diuji terlebih dahulu. Kerugiannya adalah pendekatan ini sangat sulit untuk di teliti seluruh operasinya, sebelum programnya selesai dibuat.
·         Threads (rangkaian / untaian)
Digunakan jika, keputusan dibuat terlebih dahulu untuk fungsi program yang akan dibuat, kemudian modul yang akan mendukungnya baru dibuat dan kemudian diimplementasikan untuk menghasilkan fungsi yang penting. Keuntungannya adalah fungsi yang paling penting di implementasikan terlebih dahulu. Kerugiannya adalah integrasi dari modul yang berikutnya mungkin akan lebih sulit, jika dibandingkan dengan pendekatan top-down atau bottom-up.

Auditor perlu mencari bukti yang benar dengan cara uji coba oleh manajemen program dalam memilih strategi implementasi modul dan integrasi. Khususnya pada program yang besar, penggunaan strategi yang salah (jelek) dapat mengakibatkan program yang dihasilkan menjadi kurang berkualitas.
Auditor dapat melakukan wawancara untuk menguji apakah manajemen menggunakan pendekatan sistematik untuk memilih strategi implementasi modul dan integrasi.
Mereka juga dapat menguji dokumentasi program untuk memperoleh bukti tipe strategi yang telah di adopsi (di pilih). 

Strategi Coding
Menurut konvensi (kesepakatan) program terstruktur, terdapat tiga dasar struktur utama dalam struktur kontrol yaitu :
·         Urutan sederhana (simple sequence - SEQUENCE)
·         Pemilihan dengan seleksi (selection based on a test – IF-THEN-ELSE)
·          Pengulangan kondisi (conditional repetition-DO WHILE) 

Jika konvensi pemrograman terstruktur di penuhi, dapat dipastikan bahwa para programmer akan membuat source-code yang tingkat kesalahannya kecil, mudah untuk dimengerti dan mudah untuk dirawat. Auditor dapat mencari bukti untuk memastikan apakah manajemen programming di jamin di buat oleh programmer mengikuti struktur programming yang telah di sepakati. Mereka dapat melakukan wawancara dengan manager atau programmer tentang tugas dan cara yang dilakukannya dalam membuat program. Auditor juga dapat mengecek apakah programmer dalam membuat programnya menyediakan fasilitas otomatis sebagai alat bantu untuk mereka.

Beberapa tipe penggunaan fasilitas koding otomatis anatara lain :
·         Shorthand preprocessor, memungkinkan programmer untuk menulis kode secara singkat, jugadapat menerjemahkan kode singkat ini dalam sintak yang lebih lengkap, contoh COBOL.
·         Decision-table preprocessor, memindahkan bentuk teks program ke dalam bentuk sourcecodemenggunakan bahasa pengolahan compiler.
·         Copy facility, memungkinkan penggunaan kode secara berulang
·         Editor, yang memungkinkan kode di ciptakan, di format, dan dimodifikasi secara mudah.
·         User-interface management system, memungkinkan desain dari implementasi yang cepat,seperti windows, icons, menus, dan dialog boxes.
·         CASE tools, berisi bermacam-macam fasilitas yang dapat membantu proses koding.

Strategi Dokumentasi
Pedoman untuk menghasilkan dokumentasi yang berkualiatas adalah sbb :
·         Sediakan petunjuk yang menunjukan proes pembuatan program ke dalam beberapa tahap dankomponen secara keseluruhan dan hubungan antara komponen-komponen tersebut.
·         Gunakan baris komentar dalam program secara bebas untuk menerangkan jalannya (logika)program.
·          Beri nama untuk variabel, konstanta tipe, paragraf, modul, dan seksi yang berarti kepada parapembaca source-code program.
·         Buat lay-out dari source-program sehingga mudah untuk dibaca.
·         Kelompokan tipe kode yang saling berhubungan.




4.      Pengetesan (Testing)
Testing software adalah proses mengoperasikan software dalam suatu kondisi yang dikendalikan, untuk memverifikasi apakah telah berlaku sebagaimana telah ditetapkan (menurut spesifikasi), mendeteksi error , dan memvalidasi apakah spesifikasi yang telah ditetapkan sudah memenuhi keinginan atau kebutuhan dari pengguna yang sebenarnya.
·         Verifikasi adalah pengecekan atau pengetesan entitas-entitas, termasuk software, untuk pemenuhan dan konsistensi dengan melakukan evaluasi hasil terhadap kebutuhan yang telah ditetapkan. (Are we building the system right?)
·         Validasi melihat kebenaran sistem, apakah proses yang ditulis dalam spesifikasi  adalah apa yang sebenarnya diinginkan atau dibutuhkan oleh pengguna. (Are we building the right system?)
·         Deteksi error. Testing seharusnya berorientasi untuk membuat kesalahan secara intensif, untuk menentukan apakah suatu hal tersebut terjadi bilamana tidak seharusnya terjadi atau suatu hal tersebut terjadi dimana seharusnya mereka ada.

Jenis-jenis testing antara lain sebagai berikut :
·         Pengujian white box
Pengujian yang didasarkan pada pengecekan terhadap detail perancangan, menggunakan struktur kontrol dari desain program secara procedural untuk membagi pengujian ke dalam beberapa kasus pengujian.

·         Pengujian basis path
Metode ini memungkinkan perancang test case mendapatkan ukuran kekompleksan logical dari perancangan prosedural dan menggunkan ukuran ini sbg petunjuk untuk mendefinisikan basis set dari jalur pengerjaan. Test case yg didapat digunakan untuk mengerjakan basis set yg menjamin pengerjaan setiap perintah minimal satu kali selama uji coba. Contoh : diagram alir

·         Pengujian struktur control
Merupakan pengujian kondisi dimana sebuah metode desain test case yang menggunakan kondisi logis yang ada pada suatu program. Contoh : Kondisi sederhana dari persamaan relasional

·         Pengujian black box
Merupakan pengujian yang berfokus pada spesifikasi fungsional dari perangkat lunak, tester dapat mendefinisikan kumpulan kondisi input dan melakukan pengetesan pada spesifikasi fungsional program.

5.      Pengoperasian dan Pemeliharaan (Operation and Maintenance)
Dalam  sudut  pandang  Sistem  Audit,  perhatian  utama  pada  operasional  program adalah  bagaimana performance program tersebut dapat dimonitor setiap saat. Seseorang harus bertanggung jawab untuk mengidentifikasi apabila program perlu perawatan, kemungkinan lain adalah identifikasi dari kebutuhan perawatan  mungkin  tidak terjadi.
Akibatnya,  bisa  terjadi  kekeliruan  pada  database  program,  kegagalan dalam pencapaian keinginan user, atau operasi program tidak efisien. Mekanisme  formal  dalam  monitoring  status  operasional  program  sangat  diperlukan, ketika  pengguna dari program adalah seluruh anggota organisasi yang terdiri dari berbagai macam latar belakang.

Ada 3 macam tipe dari perawatan (maintenance) yang diperlukan agar program tetap beroperasi:
·         Repair-maintenance-errors, perawatan dengan cara memperbaiki kesalahan.
·         Adaptive maintenance-users needs, perawatan dengan mengadaptasi pada keinginan user.
·         Perfective maintenance, perawatan dengan maksud agar diperoleh program yang sempurna.

Sedangkan auditor tugas utamanya adalah  sebagai berikut :
·         Untuk memastikan bahwa fase ini berjalan dengan efektif dan pelaporan secara berkala dapat dilakukan, serta proses perawatan bisa di kontrol dengan baik.
·         Auditor   harus   bisa   mencari   bukti   bawa   manajemen   telah   meninjau system dengan baik dan bertanggung jawab dalam monitoring status dari operasional program. Caranya dengan melakukan interview (wawancara), obsevasi, tinjauan pada dokumen yang menunjukan bahwa system telah beroperasi dengan baik.
·         Selanjutnya mereka harus fokus pada kualitas dari kontrol proses maintenance.

Share:

Sabtu, 17 November 2018

TUGAS 2 : AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI


TUGAS 2
AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI




KELOMPOK :
Dheayu Rahma Hadtzanty                 (11115812)
Hidayah Chairunnisa                          (13115157)
Ida Ayu Prima Utami A.W                  (13115224)
Reza Novaldy                                     (17115628)
KELAS 4KA08



JURUSAN SISTEM INFORMASI
FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA 2018/ 2019

1.    Audit Around computer



Audit around computer adalah suatu pendekatan audit yang berkaitan dengan komputer, lebih tepatnya pendekatan audit disekitar komputer. Dalam pendekatan ini auditor dapat melangkah kepada perumusan pendapat dengan hanya menelaah sturuktur pengendalian dan melaksanakan pengujian transaksi dan prosedur verifikasi saldo perkiraan dengan cara sama seperti pada sistem manual (bukan sistem informasi berbasis komputer). Audit around the computer masuk ke dalam kategori audit sistem informasi dan lebih tepatnya masuk ke dalam metode audit. Audit around the computer dapat dikatakan hanya memeriksa dari sisi user saja pada masukkan dan keluaranya tanpa memeriksa lebih mendalam terhadap program atau sistemnya, bisa juga dikatakan bahwa audit around the computer adalah audit yang dipandang dari sudut pandang black box.
Auditor tidak perlu menguji pengendalian sistem informasi berbasis komputer klien (yaitu terhadap file program atau data di komputer), melainkan cukup terhadap input serta output sistem aplikasi saja. Dari penilaian terhadap kualitas dan kesesuaian antara input dengan output sistem aplikasi ini, auditor dapat mengambil kesimpulan tentang kualitas pemrosesan data yang dilakukan klien (meskipun proses atau  program komputernya tidak diperiksa). Oleh karena itu auditor harus dapat mengakses ke dokumen sumber yang cukup dan daftar laporan atau keluaran (output) yang terinci dalam bentuk yang dapat dibaca. Kuncinya adalah pada penelusuran transaksi terpilih mulai dari dokumen sumber sampai ke bagan-perkiraan (akun) dan laporan keuangan.
Untuk menerapkan metode ini, pertama auditor meninjau dan menguji pengendalian masukan (input controls), kemudian menghitung hasil yang diperkirakan (expected) dari proses transaksi yang terpilih, lalu auditor membandingkan hasil sesungguhnya seperti yang tampak dalam laporan yang dihasilkan dengan hasil yang dihitung secara manual (untuk mendapat keyakinan bahwa proses atau program komputernya sudah benar). Apabila ternyata valid dan akurat, diasumsikan bahwa pengendalian sistem telah efektif dan sistem telah beroperasi dengan baik.

Audit around computer dilakukan pada saat :
1.    Dokumen sumber tersedia dalam bentuk kertas ( bahasa non-mesin), artinya masih kasat mata dan dilihat secara visual.
2.     Dokumen-dokumen disimpan dalam file dengan cara yang mudah ditemukan
3.    Keluaran dapat diperoleh dari daftar yang terinci dan auditor mudah menelusuri setiap transaksi dari dokumen sumber kepada keluaran dan sebaliknya.

Keunggulan metode Audit around computer :
1.    Pelaksanaan audit lebih sederhana.
2.    Auditor yang memiliki pengetahuan minimal di bidang komputer dapat dilihat dengan mudah untuk melaksanakan audit

Kelemahan metode Audit around computer:
1.      Umumnya database mencakup jumlah data yang banyak dan sulit untuk ditelusuri secara manual. Tidak membuat auditor memahami sistem komputer lebih baik.
2.      Mengabaikan pengendalian sistem, sehingga rawan terhadap kesalahan dan kelemahan potensial dalam sistem.
3.      Lebih berkenaan dengan hal yang lalu daripada audit yang preventif.
4.      Kemampuan komputer sebagai fasilitas penunjang audit mubadzir.
5.      Tidak mencakup keseluruhan maksud dan tujuan audit.

Contoh around the computer:
1.    Dokumen sumber tersedia dalam bentuk kertas (bahasa non-mesin) , artinya masih kasat mata dan dilihat secara visual.
2.    Dokumen-dokumen disimpan dalam file dengan cara yang mudah ditemukan.
3.    Keluaran dapat diperoleh dari daftar yang terinci dan auditor mudah menelusuri setiap transaksi dari dokumen sumber kepada keluaran dan sebaliknya.
4.    Item komputer yang diterapkan masih sederhana.
5.    Sistem komputer yang diterapkan masih menggunakan software yang umum digunakan, dan telah diakui, serta digunakan secara massal.

Misalkan ada suatu perusahaan yang sedang menjalani audit around the computer, maka orang audit akan memeriksa bagaimana kelengkapan dari system yang diterapkan oleh kliennya apakah sudah sesuai dengan SOP perusahaan atau penerapan sistematis yang ada, ataupun tidak, seperti :
1.    Dokumen difilekan secara baik yang memungkinkan melokalisasi data untuk keperluan audit.
2.    Penggunaan SOP.
3.    Standarisasi pengkodean yang telah diterapkan, pembaharuannya.
4.    Log dari transaksi kegiatan yang dikerjakan oleh klien selama masa aktif apakah telah sesuai dengan bagiannya atau tidak.




2.    Audit Through The Computer



Audit Through The Computer adalah Audit yang berbasis komputer dimana dalam pendekatan ini auditor melakukan pemeriksaan langsung terhadap program-program dan file-file komputer pada audit sistem informasi berbasis komputer. Auditor menggunakan komputer (software bantu) atau dengan cek logika atau listing program untuk menguji logika program dalam rangka pengujian pengendalian yang ada dalam komputer.
Audit through the computer dapat dikatakan sebagai dimana auditor selain memeriksa data masukan dan keluaran, juga melakukan uji coba proses program dan sistemnya atau yang disebut dengan white box, sehinga auditor merasakan sendiri langkah demi langkah pelaksanaan sistem serta mengetahui sistem bagaimana sistem dijalankan pada proses tertentu.
Pendekatan ini banyak digunakan dalam audit PDE. Auditor menggunakan komputer untuk menguji logic dan pengendalian yang ada dalam komputer dan catatan yang dihasilkan oleh komputer. Besar kecilnya penggunaan (peranan) komputer dalam audit tergantung pada kompleksitas dari sistem komputer perusahaan yang diaudit. Penggunaannya dapat sederhana atau lebih rumit. Dalam pendekatan ini fokus perhatian auditor langsung pada operasi pemrosesan di dalam sistem komputer.

Pendekatan Audit Through the computer dilakukan dalam kondisi :
1.    Sistem aplikasi komputer memroses input yang cukup besar dan menghasilkan output yang cukup besar pula, sehingga memperuas audit untuk meneliti keabsahannya.
2.    Bagian penting dari struktur pengendalian intern perusahaan terdapat di dalam komputerisasi yang digunakan.

Keunggulan pendekatan Audit Through the computer :
1.    Auditor memperoleh kemampuan yang besar dan efketif dalam melakukan pengujian terhadap sistem komputer.
2.    Auditor akan merasa lebih yakin terhadap kebenaran hasil kerjanya.
3.    Auditor dapat melihat kemampuan sistem komputer tersebut untuk menghadapi perubahan lingkungan.
4.    Dapat meningkatkan kekuatan pengujian system aplikasi secara efektif.
5.    Dapat memeriksa secara langsung logika pemprosesan dan system aplikasi.
6.    Kemampuan system dapat menangani perubahan dan kemungkinan kehilangan yang terjadi pada masa yang akan dating.

Kelemahan Audit Through the computer:
1.    Biaya yang dibutuhkan relative tinggi karena jumlaj jam kerja yang banyak untuk dapat lebih memahami struktur pengendalian intern dari pelaksanaan system aplikasi.
2.    Butuh keahlian teknis yang mendalam untuk memahami cara kerja sistem.

Contoh audit through the computer:
1.    Sistem aplikasi komputer memroses input yang cukup besar dan menghasilkan output yang cukup besar pula, sehingga memperluas audit untuk meneliti keabsahannya.
2.    Bagian penting dari struktur pengendalian intern perusahaan terdapat di dalam komputerisasi yang digunakan.
3.    Sistem logika komputer sangat kompleks dan memiliki banyak fasilitas pendukung.
4.    Adanya jurang yang besar dalam melaksanakan audit secara visual, sehingga memerlukan pertimbangan antara biaya dan manfaatnya.

Perbedaan antara audit around the computer dengan audit through the computer. 

AUDIT AROUND THE COMPUTER
AUDIT THROUGH THE COMPUTER
Proses atau cara mengaudit
Pemeriksaan berdasarkan dokumen-dokumen yang nyata dan tidak perlu menggunakan bantuan software karena dapat di lihat dengan kasat mata
Proses atau cara mengaudit
Sudah menggunakan bantuan sotfware untuk memeriksa program-program dan file-file komputer yang ada di dalam komputer
Sistem harus sederhana dan berorientasi pada sistem batch.
Pada umumnya sistem batch komputer merupakan suatu pengembangan langsung dari sistem manual.
Volume input dan output.
Input dari proses sistem aplikasi dalam volume besar dan output yang dihasilkan dalam volume yang sangat besar dan luas. Pengecekan langsung dari sistem input dan output yang sulit dikerjakan.
Melihat keefektifan biaya.
Seringkali keefektifan biaya dalam Audit Around The Computer pada saat aplikasi yang digunakan untuk keseragaman kemasan dalam program software.
Pertimbangan efisiensi.
Karena adanya pertimbangan keuntungan biaya, jarak yang banyak dalam uji coba penampakan audit adalah biasa dalam suatu sistem.

Auditor harus besikap userfriendly.
Biasanya pendekatan sederhana yang berhubungan dengan audit dan dapat dipraktekkan oleh auditor yang mempunyai pengetahuan teknik tentang komputer.



Contoh kasus :

AUDIT SISTEM INFORMASI APLIKASI PENJUALAN TUNAI PADA PT AJ
Perusahaan PT AJ didirikan pada tahun 1970 dalam bentuk toko elektronik kecil, kemudian semakin maju dan berkembang, akhirnya oleh penerusnya pada tanggal 17 September 2004 diubah menjadi Perusahaan Terbatas. Perusahaan ini bergerak dalam bidang penjualan barang-barang elektronik secara tunai, yang antara lain menjual berbagai jenis TV, LCD, DVD player, AC, kulkas, mesin cuci, kompor, rice cooker, dan blender. Perusahaan berlokasi di Jln. RS. Fatmawati, Jakarta Selatan. Perusahaan memiliki beberapa anak cabang seperti di Bendungan Hilir, Keramat Jati, Ciledug, Ciputat, Depok, dan WTC Mangga Dua. Pembahasan mengenai audit sistem informasi sangat luas, maka ruang lingkup permasalahan akan dibatasi hanya pada Audit Sistem Informasi Penjualan Tunai. Pelaksanaan audit dilakukan dengan metode Audit Around the Computer melalui pengujiaan dan pengevaluasian pengendalian manajemen, kemudian input dan output sistem aplikasi pada perusahaan.
Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, maka dalam proses bisnis dibutuhkan sistem pengolahan informasi yang baik agar keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat. Untuk mengolah informasi dengan baik, maka dibutuhkanlah audit terhadap sistem informasi yang ada. Oleh karena itu, adanya audit sistem informasi diharapkan dapat menghasilkan informasi bisnis yang dibutuhkan perusahaan secara efektif dan efisien dan akurat seperti pada perusahaan dagang PT AJ.

Metode objek audit menggunakan : Audit Around the Computer

Tujuan audit sistem informasi penjualan tunai :
1.    Mengidentifikasi permasalahan yang terjadi pada sistem informasi penjualan tunai
2.    Memastikan bahwa sistem penjualan menghasilkan output sesuai dengan input sehingga menjamin keakuratan data pada sistem aplikasinya
3.    Mengevaluasi kelemahan-kelemahan yang mungkin ditemukan di dalam sistem pengendalian internal
4.    Memberikan rekomendasi untuk memperbaiki kelemahan dan permasalahan yang terjadi pada sistem aplikasi penjualan tunai pada perusahaan.

Rencana kerja audit :
1.    Menentukan ruang lingkup audit sistem informasi penjualan tunai
2.    Persiapan audit di lapangan dengan memperkenalkan diri dan memberitahukan maksud serta tujuan kedatangan kepada Manajer Operasional perusahaan
3.    Membuat kuesioner sesuai dengan ruang lingkup.

Instrumen pengumpulan bukti audit. Bukti-bukti audit diperoleh dari manajer dan karyawan yang berkepentingan dalam sistem informasi penjualan tunai. Pengumpulan bukti dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
1.    Kuesioner, dibuatkan kuesioner dalam bentuk check list yang berisi daftar pertanyaan tentang Pengendalian Umum dan Pengendalian Aplikasi tentang sistem yang sedang berjalan. Kuesioner ini diisi oleh manajer dan karyawan yang berwenang
2.    Wawancara, dilakukan wawancara secara langsung terhadap manajer dan karyawan yang bersangkutan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan mengenai gambaran secara rinci siklus penjualan tunai, bagaimana prosedur dan sistem informasi yang sedang berjalan serta memberikan pertanyaan tentang pengendalian umum dan pengendalian aplikasi yang berjalan di perusahaan
3.    Observasi (pengamatan), dilakukannya observasi untuk mengetahui gambaran umum perusahaan, pengamatan terhadap sistem informasi penjualan tunai yang sedang berjalan pada karyawan yang berwenang. Dengan dilakukan pengamatan ini, dapat diketahui apakah prosedur dan sistem pengendalian internal sudah diterapkan dengan baik oleh karyawan yang berwenang.

Berdasarkan wawancara dengan Manajer Operasional perusahaan bahwa fungsi yang berhubungan dengan aplikasi penjualan tunai, yaitu fungsi penjualan, fungsi kas, fungsi gudang, fungsi pengiriman, dan fungsi akuntansi. Fungsi-fungsi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
a.    Fungsi penjualan : fungsi ini bertanggung jawab untuk menerima orderan dari pembeli, mengisi faktur penjualan dan menyerahkan faktur tersebut kepada pembeli untuk kepentingan pembayaran harga barang ke fungsi kas
b.    Fungsi kas : fungsi ini bertanggung jawab sebagai penerima kas dari pembeli
c.    Fungsi gudang : fungsi ini bertanggung jawab untuk menyiapkan barang yang dipesan oleh pembeli, serta menyerahkan barang tersebut ke fungsi penerimaan
d.    Fungsi pengiriman : fungsi ini bertanggung jawab untuk mempaket barang dan menyerahkan barang yang telah dibayar oleh pembeli
e.    Fungsi akuntansi : fungsi ini bertanggung jawab sebagai pencatat transaksi penjualan dan penerimaan kas dan membuat laporan penjualan

Setelah melakukan pengumpulan dan pengevaluasian bukti terhadap sistem informasi yang berjalan pada perusahaan, dapat disajikan laporan audit sebagai berikut.
Pertama, internal control :
1.    Pengendalian sistem dilakukan secara berkala
2.    Sistem yang berjalan saat ini cukup membantu proses penjualan tunai
3.    Sistem yang berjalan sudah dilakukan menurut standar perusahaan
4.    Preventive control dilakukan jika sistem terjadi masalah dan tindakan secara tepat.

Kedua, operational control :
1.    Operational control yang berjalan di perusahaan masih kurang baik disebabkan pengawasan atas otorisasi sistem aplikasi yang digunakan masih kurang
2.    Setiap karyawan harus terlebih dahulu absen pada mesin absen yang sudah disiapkan sebelum masuk kantor
3.    Setiap karyawan mempunyai tanda pengenal tertera pada kiri baju
4.    Pembagian tugas sesuai dengan bidang masing-masing karyawan
5.    Tata letak ruang dan komputer sudah baik dan strategis
6.    Evaluasi kinerja karyawan dilakukan dalam periode tertentu.

Ketiga, Security Control :
1.    Setiap karyawan harus memasukan user id sebelum menjalankan aplikasi
2.    Program aplikasi yang dijalankan menggunakan Program Trading & Distribution System version 2.0
3.    Hanya karyawan tertentu yang dapat mengakses aplikasi yang digunakan
4.    Masih terdapat kekurangan dalam pengamanan sistem aplikasinya, yaitu tidak adanya firewall
5.    Aplikasi sistem masih sederhana digunakan dan mudah bagi karyawan dalam menjalankan sistem tersebut
6.    Tidak ada karyawan khusus yang dapat langsung memperbaiki error di program sistem bila terjadi (tidak ada karyawan IT)
7.    Pengupdatean data tidak sering dilakukan oleh user karena kurangnya pengawasan dari atasan.

Keempat, input control :
1.    Penginputan data dilakukan menggunakan keyboarding oleh user
2.    Untuk meng-input data, dibutuhkan dokumen sumber yang akan disimpan dalam suatu database
3.    Dalam meng-input data sering terjadi double input karena kelalaian user dan kurangnya pengawasan dari atasan yang bersangkutan
4.    Pembagian tugas sesuai dengan bidang masing-masing karyawan.

Kelima, output control :
1.    Output sudah didistribusikan dengan baik kepada mereka yang berhak menerima
2.    Pendistribusian output telah dilakukan secara tepat waktu sehingga data dapat tersedia pada saat dibutuhkan
3.    Terdapat pemeriksaan output sebelum barang dikirim kepada pelanggan
4.    Terdapat rangkap output sebagai bukti bahwa barang terkirim dan sudah dibayar.

Keenam, Application Control :
1.    Software aplikasi yang digunakan mudah dalam penggunaanya
2.    Software aplikasi juga mendukung dalam pembuatan aplikasi yang lain
3.    Software aplikasi dapat di-update jika diperlukan versi yang terbaru
4.    Software aplikasi pada tampilan menu yang belum bisa digunakan, sebaiknya di-update atau bila tidak diperlukan dihilangkan.





























Referensi :










Share: