Sabtu, 05 Januari 2019

ANALISIS KERJA SISTEM (PRE TEST KENDALI DAN AUDIR SISTEM INFORMASI (KASI))

Pengendalian internal telah mengalami perubahan dari konsep 'ketersediaan pengendalian' ke konsep 'proses pencapaian tujuan'.

Apakah maksud dari konsep 'Proses Pencapaian Tujuan' tersebut? 

            Dengan konsep proses pencapaian tujuan artinya untuk mencapai sebuah tujuan  tidak lagi terletak pada pucuk pimpinan, tetapi terletak dilapisan bawah. Mereka yang deket dengan konsumenlah yang paling mengerti dengan kebutuhan pasar.

            Pengorganisasian yang paling tepat untuk kondisi seperti ini adalah seperti pengorganisasian orkes simponi. Organisasi ini sepenuhnya akan digerakan oleh dinamika para pekerja (ujung tombak) sesuai spesialisai masing-masing. Untuk menjaga kekompakan agar terjadi irama yg serasi dibutuhkan seorang manajer yg berfungsi sbg konduktor. Manajer tersebut tdk lg hrs memiliki pengetahuan teknis seperti yg dimiliki pemain orkesnya, tetapi yg diperlukan hanya seorang yg mampu mengatur tempo dan menguasai tingkatan nada.
Share:

ANALISIS KERJA SISTEM (POST TEST KENDALI DAN AUDIR SISTEM INFORMASI (KASI))


Pengendalian TI didefinisikan sebagai suatu pernyataan hasil yang diinginkan atau maksud yang dicapai oleh prosedur pengendalian implementasi dalam kegiatan TI khusus. 

Terdapat 15 area pengendalian, sebagai berikut :
1.      Integritas Sistem
a.       Ketersediaan dan kesinambungan sistem komputer untuk user
b.      Kelengkapan, Keakuratan, Otorisasi, serta proses yang auditable
c.       Persetujuan dari user atas kinerja sistem yang di inginkan
d.      Preventive maintenance agreements untuk seluruh perlengkapan
e.       Kesesuaian kinerja antara S/W dan jaringan dengan yang diharapkan
f.       Serta adanya program yang disuusun untuk operasi secara menyeluruh

2.      Manajemen Sumber Daya
a.      Faktor-faktor yang melengkapi integritas sistem
b.   Yaitu meyakini kelangsungan (ongoing) H/W, S/W, SO, S/W aplikasi, dan komunikasi jaringan komputer, telah di pantau dan dikelola pada kinerja yang maksimal namun tetap dengan biaya yang wajar.
c.      Hal-hal tersebut di dokumentasikan secara formal, demi proses yang berkesinambungan

3.      Pengendalian Perubahan S/W Aplikasi dan S/W sistem
a.  Menentukan adanya keterlibatan dan persetujuan user dalam hal adanya perubahan terhadap s/w aplikasi dan s/w sistem
b. Setiap pengembangan dan perbaikan aplikasi harus melalui proses formal dan di dokumentasikan serta telah melalui tahapan-tahapan pengembangan sistem yang dibakukan dan disetujui.

4.      Backup dan Recovery
a.   Demi kelangsungan usaha, harus tersedia data processing disaster recovery planning (rencana pemulihan data dan pusat sistem informasi apabila terjadi kehancuran),
b.   Baik berupa backup dan pemulihan normal, maupun rencana contingency untuk kerusakan pusat SI (lokasi gedung, peralatanya, SDM-nya maupun manualnya).

5.      Contigency Planning
a.       Perencanaan yang komprehenshif di dalam mengantisipasi terjadinya ancaman
b.      terhadap fasilitas pemrosesan Sistem Informasi
c.   Dimana sebagian besar komponen utama dari disaster recovery plan telah dirumuskan dengan jelas, telah di koordinasikan dan disetujui, seperti critical application systems, identifikasi peralatan dan fasilitas penunjang H/W, sistem S/W dan sebagainya.

6.      System S/W Support
a.     Pengukuran pengendalian dalam pengembangan, penggunaan, dan pemeliharaan dari S/W SO, biasanya lebih canggih dan lebih cepat perputarannya dibandingkan dengan S/W aplikasiDengan ketergantungan yang lebih besar kepada staf teknik untuk integritas fungsionalnya
b.  Pengukuran kendali pengamanan aplikasi individu maupun pengamanan logika sistem secara menyeluruh (systemwide logical security)

7.      Dokumentasi
a.   Integritas dan ketersediaan dokumen operasi, pengembangan aplikasi, user dan S/W sistem
b.  Diantaranya dokumentasi program dan sistem, buku pedoman operasi dan schedule operasi
c.  Untuk setiap aplikasi sebaiknya tersedia dokumentasi untuk tiap jenjang user.

8.      Pelatihan atau Training
a.     Adanya penjenjagan berdasarkan kemampuan untuk seluruh lapisan manajemen dan staf, dalam hal penguasaannya atas aplikasi-aplikasi dan kemampuan teknisnya
b.     Serta rencana pelatihan yang berkesinambungan

9.      Administrasi
a. Struktur organisasi dan bagannya, rencana strategis, tanggungjawab fungsional, job description, sejalan dengan metoda job accounting dan/atau charge out yang digunakan
b.   Termasuk didalamnya pengukuran atas proses pengadaan dan persetujuan untuk semua sumber daya Sistem Informasi.

10.  Pengendalian Lingkungan dan Keamanan Fisik
a.     Listrik, peyejuk udara, penerang ruangan, pengaturan kelembaban, serta kendali akses ke sumber daya informasi
b.      Pencegahan kebakaran, ketersediaan sumber listrik cadangan,
c.       Juga pengendalian dan backup sarana telekomunikasi

11.  Operasi
a.       Diprogram untuk merespon permintaan/keperluan SO
b.  Review atas kelompok SO berdasarkan job schedulling, review yang terus-menerus terhadap operator, retensi terhadap console log message, dokumentasi untuk run/restore/backup atas seluruh aplikasi
c.  Daftar personel, dan nomor telepon yang harus dihubungi jika muncul masalah SO, penerapan sistem sift dan rotasi serta pengambilan cuti untuk setiap operator.

12.  Telekomunikasi
a.       Review terhadap logical and physical access controls,
b.      Metodologi pengacakan (encryption) terhadap aplikasi electronic data interchange (EDI)
c.   Adanya supervisi yang berkesinambungan terhadap jaringan komputer dan komitmen untuk ketersediaan jaringan tersebut dan juga redundansi saluran telekomunikasi.

13.  Program Libraries
a.       Terdapat pemisahan dan prosedur pengendalian formal untuk application source code dan compiled production program code dengan yang disimpan di application test libraries development
b.      Terdapat review atas prosedur quality assurance.

14.  Application Support
a.       Bahwa proses tetap dapat berlangsung walaupun terjadi kegagalan sistem
b.   Sejalan dengan kesinambungan proses untuk inisiasi sistem baru, manajemen proyek, proses pengujian yang menyeluruh antara user dan staf Sistem Informasi
c.      Adanya review baik formal maupun informal terhadap tingkat kepuasan atas SDLC yang digunakan.

15.  Microcomputer Controls
a.  Pembatasan yang ketat dalam pengadaan, pengembangan aplikasi, dokumentasi atas aplikasi produksi maupun aplikasi dengan misi yang kritis, sekuriti logika, dan fisik terhadap microcomputer yang dimiliki,
b. Serta pembuatan daftar inventaris atas H/W, S/W, serta legalitas dari S/W untuk menghindari tuntutan pelanggaran hak cipta.    

Share:

Senin, 31 Desember 2018

TUGAS 4 : AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI


TUGAS 4
AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI


KELOMPOK :
Dheayu Rahma Hadtzanty                 (11115812)
Hidayah Chairunnisa                          (13115157)
Ida Ayu Prima Utami A.W                   (13115224)
Novaldy Reza                                           (17115628)
KELAS 4KA08

JURUSAN SISTEM INFORMASI
FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA 2018/ 2019



Pelaksanaan Audit TSI pada Lingkungan Workgroup/Enterprise Information System

Workgroup Information Systems ialah suatu bentuk sistem yang dalam menjalankan fungsinya terdiri dari beberapa orang yaitu berupa sekelompok tim kecil yang saling berkolaborasi dalam proyek atau aplikasi yang sama, memiliki aturan yang mengatur fungsi grup dan anggotanya serta standarisasi peran untuk setiap anggota dalam organisasi tersebut, Workgroup Information Systems dirancang untuk memenuhi kebutuhan dari sebuah kelompok kerja. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan produktivitas dari suatu kelompok kerja. Dalam divisi sumber daya manusia, terdapat beberapa workgroup yang bertugas untuk meningkatkan kemampuan dan produktivitas personalia guna menunjang kelancaran suatu produk. Workgroup tersebut akan mengatur dan mengembangkan kemampuan sikap mental SDM yang memiliki potensi serta motivasi yang kuat untuk berprestasi dalam bidangnya di suatu usaha produk.
Auditor juga harus menggunakan penilaian yang baik dalam menilai risiko sebenarnya yang terkait dengan langkah-langkah ini, berdasarkan lingkungan dan keseluruhan postur keamanan sistem.


Studi Kasus
PT. Aisin Indonesia Automative

1.      Objek Audit :
Audit Sistem Informasi pada PT. Aisin Indonesia Automative
       PT. Aisin Indonesia Automative adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur komponen otomotif. Brtdiri sejak tanggal 14 Maret 2014, PT. Aisin Indonesia Automative merupakan joint venture antara PT. Aisin Indonesia (AII) – Astra Otoparts Group dengan Aisin Seiki Co., LTD. – Member of Toyota Group. Produk AIIA diantaranya adalah center pilar garnish, door handle, power seat motor, power sliding door untuk body part dan cam housing, engine front module, oil pan, oil pump, dan water pump untuk engine part, yang dipasarkan untuk APM domestic seperti Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Astra Daihatsu Motor (ADM), dan Suzuki Indomobil Motor. Produk AIIA telah diekspor ke berbagai negara di Amerika, Asia, dan Eropa.
            Metode system informasi audit workgroup yang digunakan adalah menggunakan audit around computer, pendekatan audit dimana auditor menguji keandalan sebuah informasi yang dihasilkan oleh computer.





2.      Menyusun Instrument Audit
a.       Sistem Informasi
b.      Firewall
c.       Jaringan
d.      Disk Penyimpanan  & Web Server

3.      Melakukan Audit
a.       Sistem Operasi
Pada perusahaan ini menggunakan Sistem Operasi Windows 7 Profesional 64bit. Sistem operasi yang digunakan perusahaan merupakan sistem operasi original yang memiliki lisensi resmi  


OS : WINDOWS 7 Profesional
PROCESSOR : INTEL i5
RAM : 4 GB

b.      Firewall
Firewall merupakan system yang dirancang untuk mencegah system yang tidak di inginkan dari suatu jaringan internal. Pada perusahan ini, didapatkan windows firewallnya aktif. Lapisan Keamanan pada perusahaan ini menggunakan Advanced Encryption Standard (AES), AES merupakan algoritma cryptographic yang dapat digunakan untuk mengamakan data. Algoritma AES adalah blok chipertext simetrik yang dapat mengenkripsi (encipher) dan dekripsi (decipher) informasi. Enkripsi merubah data yang tidak dapat lagi dibaca disebut ciphertext; sebaliknya dekripsi adalah merubah ciphertext data menjadi bentuk semula yang kita kenal sebagaiplaintext. Algoritma AES is mengunkan kunci kriptografi 128, 192, dan 256 bits untuk mengenkrip dan dekrip data pada blok 128 bits.


c.       Jaringan
Kecepatan jaringan suatu perusahaan ini menggunakan :
·         isp VNT, di test menggunakan speed test
·         Sudah ada resource sharing
·         Media transmisi wireless dan kabel


d.      Disk Penyimpanan dan Web Server
Perusahaan ini menggunakan Disk Penyimpanan pada Web Server rutin dilakukan maintenance dan backup data pada bagian web server. Pada perusahaan ini, web server dibangun dengan beberapa bahasa pemograman yaitu:
·         AJAX
Merupakan singkatan dari “Asynchronous Javascript and XML”. Secara sederhana, AJAX memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan kode program pada server melalui Javascript. Melalui AJAX, kita dapat memanggil kode pada server melalui URL tertentu, dan menerima data atau pesan hasil eksekusi oleh server. Pada awal pengembangan, server mengembalikan data dalam format XML (‘X’ pada AJAX). Pada prakteknya, server dapat mengembalikan data apapun, selama kode klien mengetahui format yang diberikan. Bahkan pada perkembangan selanjutnya, format JSON menjadi lebih populer dibandingkan XML.
·         VERT.X
Eclipse Vert.x adalah framework aplikasi berbasis poliglot yang berjalan pada Java Virtual Machine. Lingkungan yang serupa ditulis dalam bahasa pemrograman lain termasuk Node.js untuk JavaScript, Twisted for Python, Lingkungan Objek Perl untuk Perl, libevent untuk C, reactPHP dan amphp untuk PHP dan EventMachine untuk Ruby.
·         JAVA
Java adalah bahasa pemrograman tingkat tinggi yang berorientasi objek dan program java tersusun dari bagian yang disebut kelas. Kelas terdiri atas metode-metode yang melakukan pekerjaan dan mengembalikan informasi setelah melakukan tugasnya

4.      Hasil Audit
a.       Auditing Data Centers and Disaster Recovery
Pusat data adalah fasilitas yang dirancang untuk menampung sistem kritis organisasi, yang terdiri dari perangkat keras, sistem operasi, dan aplikasi komputer. Aplikasi biasanya digunakan untuk mendukung proses bisnis yang spesifik seperti pemenuhan pesanan, customer relationship management (CRM), dan akuntansi. Pusat data menggabungkan beberapa jenis kontrol berbasis fasilitas, yang biasa disebut keamanan fisik dan pengendalian lingkungan, termasuk sistem kontrol akses fasilitas, sistem alarm, dan sistem pemadaman kebakaran. Sistem ini dirancang untuk mencegah intrusi yang tidak sah, mendeteksi masalah sebelum menyebabkan kerusakan, dan mencegah penyebaran api.


b.      Auditing Routers, Switches and Firewalls
Jaringan memungkinkan host untuk berkomunikasi menggunakan perangkat keras khusus yang dioptimalkan untuk mengirimkan data dari satu host ke host lainnya. Pada dasarnya, perangkat keras adalah komputer yang menjalankan sistem operasi yang dirancang untuk memindahkan data. Perangkat jaringan seperti router, switch, dan firewall memiliki komponen dasar yang akan Anda temukan di server biasa Anda, kecuali perangkat yang sangat disesuaikan. Perangkat ini berisi prosesor khusus dengan petunjuk tertanam yang dirancang untuk memproses pergerakan data secara cepat dan efisien. Mereka juga memiliki memori, sistem operasi, dan sarana untuk mengkonfigurasi perangkat.

c.       Auditing Windows Operating Systems
Banyak komponen seputar sistem operasi yang harus diperhatikan dalam ulasan lengkap. Misalnya, perhatikan bahaya yang kurang terpelihara atau aplikasi yang dikonfigurasi Semakin banyak aplikasi yang Anda tambahkan ke platform, semakin banyak area masalah potensial yang Anda miliki sebagai auditor saat Anda meningkatkan area permukaan serangan Anda. Selain itu, perangkat keras, penyimpanan, dan jaringan mempengaruhi kinerja dan perlindungan sistem operasi. Akhirnya, kontrol dan pengelolaan lingkungan sekitar mempengaruhi dukungan, risiko, kepatuhan, dan keselarasan bisnis server.

d.      Auditing Unix and Linux Operating Systems
File system bisa dianggap sebagai tree, dan basis setiap tree adalah root. Jadi direktori root, yang ditunjuk adalah trunk dari cabang direktori lain. Setiap sistem Unix memiliki direktori root, tapi Anda akan menemukan beberapa varian dalam apa yang Anda lihat dari sana. File dan directory permissions dapat dipisahkan menjadi user, group, dan world permissions. Dengan kata lain, setiap file dan direktori memiliki hak akses yang ditetapkan untuk user file, untuk group yang terkait dengan file tersebut, dan untuk orang lain (sering disebut "world" atau "other"). Masing-masing entitas ini dapat diberikan akses baca (read), tulis (write), dan eksekusi (execute). Baik file dan direktori memiliki set izin sendiri.


e.       Auditing Web Servers and Web Applications
Audit web yang lengkap benar-benar merupakan audit terhadap tiga komponen utama, termasuk sistem operasi server, server web, dan aplikasi web. Komponen tambahan seperti database pendukung atau infrastruktur jaringan yang relevan mungkin juga sesuai untuk dipertimbangkan sebagai bagian dari audit Anda. Komponen pertama yang kami diskusikan adalah platform atau sistem operasi yang mendasari server dan aplikasi web yang terpasang dan beroperasi. Selanjutnya adalah web server itu sendiri, seperti Internet Information Services (IIS) atau Apache, yang digunakan untuk meng-host aplikasi web. Selanjutnya, meliput audit aplikasi web. Aplikasi web mencakup kerangka kerja pengembangan terkait seperti ASP.NET, Java, Python, atau PHP dan sistem pengelolaan konten yang sesuai (CMS) seperti Drupal, Joomla, atau WordPress.

f.       Auditing Databases
Untuk mengaudit database secara efektif, Anda memerlukan pemahaman dasar tentang bagaimana sebuah database bekerja. Anda perlu memahami serangkaian komponen yang luas untuk mengaudit database dengan benar. Pada awal tahun 1990an, aplikasi ditulis menggunakan model client-server, yang terdiri dari program desktop yang menghubungkan melalui jaringan langsung ke database backend. Ini disebut sebagai aplikasi two-tier. Pada akhir 1990-an, aplikasi three-tiered menjadi norma. Model baru ini terdiri dari browser web yang terhubung ke aplikasi web tingkat menengah. Tingkat menengah kemudian dihubungkan dengan database backend. Aplikasi three-tiered merupakan langkah maju yang bagus. Ini berarti bahwa perangkat lunak khusus tidak perlu diinstal pada setiap workstation klien, dan pembaruan perangkat lunak dapat diterapkan ke server pusat. Klien bisa menjalankan sistem operasi yang mendukung browser dasar. Selain itu, dalam model three-tiered, mengamankan database jauh lebih sederhana. Tentu saja, infrastruktur yang dibutuhkan oleh database untuk mendukung aplikasi two-tier masih ada di database backend untuk aplikasi three-tiered. Bahaya sekarang ada bahwa penyerang akan menghindari aplikasi web untuk menyerang database backend.

g.      Auditing Storage
Penyimpanan memperluas batas lingkungan komputasi untuk memungkinkan data dibagi antara pengguna dan aplikasi. Platform penyimpanan telah berkembang dengan sangat efisien sehingga server dapat menggunakan lingkungan penyimpanan, berbeda dengan penyimpanan asli ke server dan bentuk penyimpanan langsung lainnya, untuk kebutuhan penyimpanan utama mereka. Lingkungan penyimpanan terus berkembang, karena teknologi dan platform penyimpanan tradisional digabungkan menjadi satu kesatuan yang mengelola data file dan data aplikasi dalam unit yang sama. Protokol smart switch yang mampu memindahkan data pada kecepatan terik telah merusak kemacetan untuk mengkonsolidasikan lingkungan, yang pada gilirannya memungkinkan perampingan pusat data. Tambahkan ke teknologi ini seperti deduplikasi data, virtualisasi penyimpanan, dan solid state drive, dan mudah untuk melihat mengapa administrator penyimpanan yang baik diminati.

5.      Rekomendasi Audit
Workgroup Information Systems dirancang untuk memenuhi kebutuhan dari sebuah kelompok kerja. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan produktivitas dari suatu kelompok kerja. Auditor juga harus menggunakan penilaian yang baik dalam menilai risiko sebenarnya yang terkait berdasarkan lingkungan dan keseluruhan postur keamanan sistem.





Share: